Tampilkan postingan dengan label Champions League. Tampilkan semua postingan
Reuni tim-tim raksasa tak terhindarkan.
Undian fase grup Champions League (UCL) 2013/2014 telah selesai, Kamis (29/8). Grup yang pantas mendapatkan titel “grup neraka” kali ini adalah Grup H. Bagaimana tidak? Total gelar kompetisi kasta tertinggi Eropa keempat tim menyentuh angka 16: AC Milan (7), Barcelona (4), Ajax Amsterdam (4) dan Celtic (1).
Pertemuan Barcelona dan Milan bukan sesuatu yang langka di UCL. Musim kemarin, mereka beradu di babak 16 besar. El Blaugrana menundukkan I Rossoneri dengan agregat 4-2. Pada musim 2011/2012, kedua kubu bahkan saling berhadapan 4 kali: babak grup dan 8 besar. Selain itu, duel Barcelona dan Celtic musim lalu pun terulang. Patut dinanti apakah The Hoops mampu tampil mengejutkan lagi.
“Sebelum pengundian, kami bercanda dengan para direktur Barcelona soal kemungkinan saling berhadapan lagi. Ini keempat kalinya dalam waktu tiga tahun. Grup ini fantastis dan menyertakan klub dengan sejarah besar. Fans kami di Milan sudah melihat Messi beberapa kali, kini mereka bisa menyaksikan Neymar,” ungkap direktur Milan, Umberto Gandini.
Sementara itu, Arsenal terjebak di grup kompetitif. 3 dari 4 tim yang berada dalam Grup F merupakan runner-up liga domestik masing-masing – kecuali The Gunners: Marseille (Ligue 1), Borussia Dortmund (Bundesliga), Napoli (Serie A). Dua klub yang disebut terakhir punya kemampuan untuk membuat tim asuhan Arsene Wenger lolos ke Europa League. Sementara Marseille bisa menjadi kuda hitam.
Usai menjadi finalis UCL dan kehilangan Mario Gotze, Die Borussen memboyong 3 pemain: Pierre-Emerick Aubameyang, Henrikh Mkhitaryan dan Sokratis Papastathopoulos. Di sisi lain, I Partenopei pun belanja. Penjualan Edinson Cavani membantu mereka membawa Gonzalo Higuain, Raul Albiol, Jose Callejon, Dries Mertens dan Pepe Reina (pinjam). Arsenal? Sekarang saat yang tepat untuk belanja.
Manchester City, yang dua kali berurutan kandas di babak grup, tak lagi terjebak dalam grup neraka. Di atas kertas hanya sang juara bertahan, Bayern München, yang sanggup membuat mereka bertengger di posisi kedua. Entah seperti apa kehebohan di media sosial andai kata The Citizens tak lolos dari Grup D. Materi pemain mereka boleh dibilang lebih baik dari musim 2011/2012 dan 2012/2013.
Kampiun Premier League, Manchester United, mendapatkan hasil undian yang tak mengerikan – bila tak mau disebut mudah. Namun, 3 klub lain yang berada di Grup A sama-sama punya potensi menjegal The Red Devils: Shakhtar Donetsk, Bayer Leverkusen, Real Sociedad. Nama terakhir bahkan digadang-gadang sanggup mengulangi pencapaian Malaga musim lalu.
Selain itu, Chelsea diprediksi dengan mudah akan memuncaki Grup E. Di sana mereka bersaing dengan Schalke, Basel dan Steaua Bucuresti. Amunisi-amunisi baru seperti Andre Schurrle, Willian dan Samuel Eto’o, racikan taktik Jose Mourinho dan stok skuat lama terasa lebih dari cukup bagi The Blues untuk sekadar melaju ke tahap selanjutnya.
Di tempat lain, Grup B akan terjadi ajang reuni. Real Madrid kembali bersua Galatasaray, yang sempat membuat mereka ketar-ketir di babak perempat final sebelum dipastikan lolos ke semi final. Manajer anyar Los Blancos, Carlo Ancelotti, juga punya kesempatan bertemu Juventus, klub yang pernah memecatnya di tengah pertandingan.
Champions League: Grup Neraka, Kuda Hitam dan Ajang Reuni
Posted by Zulfikar Alfayed
Minggu, 01 September 2013
Zlatan Ibrahimovic justru menjadi orang yang paling sering memberi assist di Liga Champions 2012/2013.
Profile:
Pencinta sepakbola pasti tahu bagaimana cap arogan dan egois bisa dialamatkan kepada Zlatan Ibrahimovic. Kutipan-kutipan perkataan Ibrahimovic yang dilansir oleh media massa bisa menjadi salah satu parameter hal tersebut.
Mari ambil contoh. 11 tahun lalu, tepatnya pada April 2002, pemain asal Norwegia, John Carew, menyebut trik Ibra di atas lapangan sebagai sesuatu yang tidak berguna. Zlatan membalas dengan kalimat, “Apa yang dilakukan Carew dengan sebuah bola sepak bisa aku lakukan dengan sebuah jeruk.”
Masih kurang? Coba baca pernyataan Ibracadabra soal mengapa ia batal ke Arsenal ketika masih berusia 17 tahun. “Arsene Wenger memintaku untuk melalui tahap trial dengan Arsenal ketika aku masih berumur 17 tahun. Aku menolak. Zlatan tidak perlu mengikuti audisi.”
Namun, di pentas Liga Champions 2012/2013, pemain berusia 31 tahun tersebut sukses membuktikan diri sebagai pemain paling tidak egois dengan berbagi kepada rekan satu tim. Catatan assist Ibra menyentuh angka 7! Meninggalkan Karim Benzema, Mario Gotze, Mesut Ozil, Franck Ribery dan Angel Di Maria di belakang dengan tabungan 5 assist.
Paris Saint-Germain 4 – 0 Dinamo Zagreb: 4 Assists
Di sinilah momen kunci mengapa Ibrahimovic bisa unggul jauh dalam hal operan yang berujung pada gol. Tak masalah bila total umpan Ibra berada di bawah Cristhophe Jallet (67) dan Maxwell (59) karena ia justru lebih efektif. 7,7% sodorannya berbuah gol. Ya, proses terjadinya seluruh gol Les Parisiens saat melawan Dinamo Zagreb berawal dari kaki pemegang sabuk hitam taekwondo ini.
Dynamo Kiev 0 – 2 Paris Saint-Germain: 1 Assist
Di pertandingan ini, Ibra bukan orang yang paling rajin melepaskan umpan. Masih ada tiga pemain lain dengan kontribusi operan lebih banyak: Marco Verratti (53), Maxwell (49) dan Blaise Matuidi (46). Nama terakhir juga berkontribusi dalam gol kedua Ezequiel Lavezzi. Namun, berkat sebiji key passes dari Ibra, Lavezzi sukses menyarangkan ceplosan pertamanya.
Paris Saint-Germain 2 – 2 Barcelona: 1 Assist
Saat melawan Barcelona, PSG sedikit kesulitan untuk mengembangkan permainan. Wajar saja, karena mereka terus memainkan bola dari kaki ke kaki. Bahkan, ada 8 orang di kubu Barca punya total passes lebih banyak dari passer paling rajin milik PSG. Siapa? Ibrahimovic (35 passes). Selain mencetak gol, Ibra sukses menyumbang sebuah assist kepada Blaise Matuidi lewat sundulan.
Barcelona 1 – 1 Paris Saint-Germain: 1 Assist
Sang pencetak gol PSG, Javier Pastore, jelas jadi sorotan di laga ini. Pria Argentina ini tercatat paling rutin melesatkan operan kepada punggawa Les Parisiens lainnya dengan tingkat akurasi 80%. Namun, Ibrahimovic tetap menjadi pemain paling efektif di atas lapangan. Dari 20 passes, 6 di antaranya berhasil menjadi key passes. Salah satunya bahkan menjadi awal mula terciptanya gol Pastore.
Source: http://www.supersoccer.co.id/sepakbola-internasional/zlatan-ibrahimovic-si-arogan-ternyata-tak-egois/
Heynckes mungkin adalah nama yang berdiri tertinggi dengan keberhasilannya membawa Bayern menjadi juara UCL, namun apakah ia yang terbaik?
Liga Champions musim ini telah berakhir. Bayern München keluar sebagai juara setelah mengalahkan Borussia Dortmund di partai puncak. Sebuah prestasi yang jelas tak terlepas dari kejeniusan Jupp Heynckes sebagai juru taktik.
Berbicara mengenai juru taktik, jelas sekali bahwa keberhasilan tim-tim peserta Liga Champions sangat bergantung kepada kejeniusan mereka. Siapa sajakah sosok yang patut dilabeli sebagai juru taktik terbaik Liga Champions musim ini?
Antonio Conte
Menangani Juventus yang sudah lama absen dari kejuaraan antarklub terbesar Eropa karena satu dan lain hal, tak salah jika kita menilai Antonio Conte sebagai satu yang terbaik di kejuaraan ini. Tergabung bersama FC Shakhtar Donetsk, Chelsea, dan FC Nordsjælland di Grup E, Juventus yang digadang-gadang sebaik-baiknya hanya akan berada di bawah Chelsea nyatanya mampu keluar sebagai pemuncak klasemen.
Menangani Juventus yang sudah lama absen dari kejuaraan antarklub terbesar Eropa karena satu dan lain hal, tak salah jika kita menilai Antonio Conte sebagai satu yang terbaik di kejuaraan ini. Tergabung bersama FC Shakhtar Donetsk, Chelsea, dan FC Nordsjælland di Grup E, Juventus yang digadang-gadang sebaik-baiknya hanya akan berada di bawah Chelsea nyatanya mampu keluar sebagai pemuncak klasemen.
Berhadapan dengan Glasgow Celtic di putaran 16 besar, Juventus berhasil dibawa melaju ke fase berikutnya dengan cara memenangi pertandingan kandang dan tandang walaupun bermain di kandang para highlanders terkenal sulit bagi tim manapun. Walaupun perjalanan Conte dan pasukannya kandas di delapan besar, mereka tersingkir bukan tanpa alasan. Tim yang mengjentikan cerita perjalanan Conte mengakhiri kejuaraan dengan status juara.
Fatih Terim
Salah satu otak paling jenius di negara asalanya, Fatih Terim berhasil membawa Galatasaray melaju jauh di musim ini. Di ajang Liga Champions, pencapaian terbaik Galatasaray hadir di musim 1988–1989 kala mereka menjadi semifinalis. Sebelum catatan tersebut, Galatasaray hanya mampu dua kali mencapai perempatfinal pada 1962–1963 dan 1969–1970. Pasca menjadi semifinalis pun, prestasi Avrupa Fatihi tak kunjung membaik. Mereka dua kali menjadi perempatfinalis pada 1993–1994, 2000–2001.
Salah satu otak paling jenius di negara asalanya, Fatih Terim berhasil membawa Galatasaray melaju jauh di musim ini. Di ajang Liga Champions, pencapaian terbaik Galatasaray hadir di musim 1988–1989 kala mereka menjadi semifinalis. Sebelum catatan tersebut, Galatasaray hanya mampu dua kali mencapai perempatfinal pada 1962–1963 dan 1969–1970. Pasca menjadi semifinalis pun, prestasi Avrupa Fatihi tak kunjung membaik. Mereka dua kali menjadi perempatfinalis pada 1993–1994, 2000–2001.
Di musim ini, Fatih Terim kembali membawa klub Istanbul tersebut melaju jauh melebihi pencapaian-pencapaian mereka setelah tahun 2001. Mereka mungkin tersingkir di tangan Real Madrid, namun cukuplah sudah itu semua untuk saat ini. Galatasaray masih memiliki banyak waktu.
Keberhasilan lain Terim ada dalam diri Burak Yilmaz. Pemain tersebut berhasil dimunculkan potensinya oleh Terim dan sempat menjadi penantang terdekat Cristiano Ronaldo untuk posisi top skorer. Persaingan kedua pemain ketat hingga pada akhirnya tim Ronaldo menyingkirkan tim Yilmaz, membuat peluang sang pemain untuk menambah pundi-pundi gol ikut mati.
Manuel Pellegrini
Kehilangan pemain andalannya di awal musim sebelum kemudian kembali kehilangan pemain utamanya di bursa transfer musim dingin -keduanya ke Arsenal- Manuel Pellegrini pantas disebut sebagai alasan utama keberhasilan Malaga mencapai putaran perempatfinal UEFA Champions League 2012/13, musim pertama keikutsertaan klub Spanyol tersebut di kompetisi elit Eropa.
Kehilangan pemain andalannya di awal musim sebelum kemudian kembali kehilangan pemain utamanya di bursa transfer musim dingin -keduanya ke Arsenal- Manuel Pellegrini pantas disebut sebagai alasan utama keberhasilan Malaga mencapai putaran perempatfinal UEFA Champions League 2012/13, musim pertama keikutsertaan klub Spanyol tersebut di kompetisi elit Eropa.
Bukan rahasia lagi jika Liga Champions adalah rimba yang kejam. Jangankan tim kuda hitam. Chelsea yang berstatus sebagai juara bertahan saja tak mampu bertahan lama. Namun Pellegrini membuktikan bahwa keterbatasan kualitas dan pandangan remeh orang-orang bukanlah masalah baginya. Berada satu wadah dengan AC Milan, Zenit St. Petersburg, dan Anderlecht, Malaga berhasil menjadi pemuncak grup dan berhadapan dengan juara tahun 2004 di 16 besar; FC Porto. Perjalanan Malaga di bawah asuhan Pellegrini bisa saja lebih jauh lagi jika mereka tak kalah oleh sebuah gol offside di masa injury time di Westfalenstadion di babak perempatfinal.
Jürgen Klopp
Manager muda ini tampaknya belajar banyak dari kegagalan musim lalu. Menyandang status non unggulan, Klopp dengan tenang membimbing pasukannya ke partai puncak. Fairytale mereka musim ini dimulai dengan tergabung di Grup D, sebuah gruo yang menyajikan gambaran ideal Liga Champions karena memang hanya berisikan klub-klub peraih gelar juara liga. Diprediksi tak akan lolos, Dortmund malah berhasil mengangkangi Real Madrid, Ajax Amsterdam, dan Manchester City.
Manager muda ini tampaknya belajar banyak dari kegagalan musim lalu. Menyandang status non unggulan, Klopp dengan tenang membimbing pasukannya ke partai puncak. Fairytale mereka musim ini dimulai dengan tergabung di Grup D, sebuah gruo yang menyajikan gambaran ideal Liga Champions karena memang hanya berisikan klub-klub peraih gelar juara liga. Diprediksi tak akan lolos, Dortmund malah berhasil mengangkangi Real Madrid, Ajax Amsterdam, dan Manchester City.
Memasuki fase knock out, Shakhtar Donetsk dan Malaga berhasil dilibas oleh Klopp dengan gaya bermain Pressing und Gegenpressing yang ia terapkan kepada para pasukan mudanya. Melawan Madrid di semifinal, Klopp berhasil membawa Dortmund meraih kemenangan besar penting di leg pertama. Sebuah hasil sempurna yang membuat kekalahan di Santiago Bernabeu tak berati apa-apa bagi perjalanan manis Dortmund yang harus berakhir antiklimaks di Wembley.
Jupp Heynckes
Silakan ragukan keberadaan pria 68 tahun bernama lengkap Josef Heynckes ini di dalam daftar ini. Namun pastikan bahwa Anda memang memiliki argumentasi yang kuat karena Jupp Heynckes memang terlahir untuk berada di daftar ini, pada saat ini.
Silakan ragukan keberadaan pria 68 tahun bernama lengkap Josef Heynckes ini di dalam daftar ini. Namun pastikan bahwa Anda memang memiliki argumentasi yang kuat karena Jupp Heynckes memang terlahir untuk berada di daftar ini, pada saat ini.
Dominasi total yang ditunjukkan oleh Bayern di musim ini tak lepas dari kejeniusan pria Mönchengladbach ini. Ke dalam tim Bayern yang tak berkuasa selama dua musim terakhir, ia tambahkan nama-nama baru yang secara instan menjadi roh permainan die Roten di seluruh penjuru lapangan. Naik turun memang mewarnai perjalanan Bayern di Liga Champions yang tak semulus di Bundesliga, namun kemenangan besar dengan agregat 7-0 melawan Barcelona adalah puncak dari segala kehebatan daya pikirnya.
Momen itu mungkin hanya dapat dikalahkan oleh kejayaan Wembley kala ia lagi-lagi membungkan juara Bundesliga dua musim berturut-turut, Dortmund, yang di musim ini ia buat tak dapat memenangi satu pertandingan pun melawan timnya. Dan caranya menutup rangkaian pertandingan melawan die Borussen sangatlah berkelas.
