Tampilkan postingan dengan label International Football. Tampilkan semua postingan

Satu tahun, dua kali mati. Mungkinkah?
Di bawah pimpinan Pep Guardiola dan dengan gaya bermain tiki-taka yang diterapkan oleh nama yang sama, FC Barcelona merasakan kejayaan dengan menguasai Eropa dan dunia. Empat belas gelar juara di tingkat domestik, kontinental, dan dunia adalah bukti nyata. Hebatnya, gaya bermain ini pun mampu membawa kejayaan untuk Tim Nasional Spanyol. Dua gelar juara Eropa pada tahun 2008 dan 2012, serta gelar juara Piala Dunia pertama untuk Spanyol pada tahun 2010 seolah menegaskan bahwa tiki-taka adalah rahasia keberhasilan dalam menguasai dunia.
berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,Spanyol,Piala Dunia 2014
Begitukah adanya? Bisa jadi. Namun jika pernyataan tersebut diucapkan di hadapan para pendukung Tim Nasional Belanda, maka Anda akan ditertawakan. Kecerdasan Louis van Gaal tak hanya mampu meredam kekuasaan tiki-taka, namun lebih dari itu. Belanda bahkan bisa sampai menghancurkan Spanyol dengan skor 5-1. Hebatnya, mereka melakukannya setelah terlebih dahulu tertinggal. Apakah kemenangan Belanda tersebut menjadi bukti bahwa tiki-taka telah mati? Apakah hal ini menjadi pertanda bahwa Spanyol telah habis?
berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,Spanyol,Piala Dunia 2014
Berkaca kepada Barcelona, jawabannya seharusnya ya. Di akhir kepemimpinan Pep, di musim terakhirnya di Barcelona, ia hanya berhasil menyumbang satu gelar saja. Sebuah pertanda. Diteruskan oleh Tito Vilanova, Barcelona tetap berhasil menjadi juara walau hanya di La Liga saja. Di Eropa, tiki-taka mereka dihancurkan oleh kegemilangan Bayern München dan manager mereka kala itu, Jupp Heynckes. Pertanda lainnya.
Ketakutan para pendukung Barcelona akan berakhirnya sebuah era akhirnya terbukti. Musim 2013/14, bersama Tata Martino, Barcelona tak mendapatkan gelar apapun. Lengkap sudah bukti yang menyebutkan bahwa tiki-taka telah mati. Mereka yang masih optimis, bagaimanapun, berkeras bahwa harapan masih ada. Harapan berjuluk La Furia Roja yang akan berlaga di Piala Dunia. Harapan yang, setelah melihat pertandingan pertama pemikulnya, memudar perlahan.
berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,Spanyol,Piala Dunia 2014
Tiki-taka Barcelona mati di tahun ini. Bukan tak mungkin hal yang sama juga akan terjadi kepada Tim Nasional Spanyol. Masih terlalu dini, memang, untuk mengklaim bahwa Spanyol tak bisa menjadi juara dan berkuasa lagi. Toh pada tahun 2010, mereka juga memulai Piala Dunia dengan sebuah kekalahan. Kita hanya tinggal menunggu hasil pastinya saja. Hasil yang mungkin baru akan kita dapatkan pada 13 Juli. Atau, bisa jadi, lebih cepat dari itu. Siapa yang tahu...

Kekalahan Spanyol, Matinya Sebuah Era?

Posted by Zulfikar Alfayed
Selasa, 17 Juni 2014
Memungkinkan Brasil, Italia dan Inggris berada dalam satu grup
FIFA secara mengejutkan membuat sistem baru pengundian Piala Dunia Brasil 2014. Pengundian yang akan dilakukan di Bahia pada Jumat (6/12) ini memperkenalkan “Pot X” sebagai sistem baru pengundian. Untuk tahu apa itu pot X, kita perlu tahu latar belakang dipakainya sistem ini.
world cup
Di Piala Dunia kali ini, ada 13 negara Eropa yang berpartisipasi, 4 di antaranya sudah masuk pot 1. Sembilan negara lainnya sedianya akan dimasukkan ke pot 4. Namun karena 1 pot berisi 8 negara, maka FIFA melakukan pengundian awal. Pengundian awal ini akan menentukan mana 1 dari 9 negara Eropa itu yang akan dipindahkan ke pot 2 yang berisi 5 negara asal CAF (Afrika) dan 2 non-unggulan asal CONMEBOL (Amerika Selatan).
Nah “Pot X” ini berisi negara-negara CONMEBOL yang berada di pot 1. Brasil, Argentina, Kolombia dan Uruguay akan diundi mana yang akan bergabung dengan dengan tim Eropa yang dipindahkan ke pot 2. Hal ini untuk menghindari ada 3 negara Eropa dalam 1 grup.
Karena pengundian tim Eropa mana yang akan dipindah ke pot 2 berlangsung random, maka tak menutup kemungkinan akan ada grup yang berisi Brasil, Italia dan Inggris. Hal ini sebenarnya di luar kebiasaan FIFA. Pada Piala Dunia 2006, dengan jumlah partisipan Eropa yang sama yakni 13, Serbia-Montenegro yang saat itu memiliki peringkat terendah langsung dipindahkan ke pot 2. Di 2014 ini, Perancis yang seharusnya ada di posisi itu. Namun peraturan baru FIFA ini malah diterapkan dan memungkinkan 3 raksasa akan bertempur sejak fase grup.
pot x prosedur
sumber: fifa.com

Mengenal Sistem Pot X

Posted by Zulfikar Alfayed
Jumat, 06 Desember 2013
Brasil, Italia dan Perancis berada satu Grup.
Setelah berhasil lolos putaran final, 32 tim kontestan Piala Dunia 2014 masih harap-harap cemas. Undian grup Piala Dunia akan digelar di Mata de Sao Joao, Bahia pada Jumat (6/12), hal ini akan menentukan apakah mereka ada di grup neraka atau tidak. Sistem undian Piala Dunia menggunakan sistem unggulan, 32 negara dibagi dalam 4 pot. Pot 1 diisi tuan rumah dan 7 negara dengan peringkat FIFA terbaik. Ketiga pot berdasarkan konfederasi asal dan juga peringkat FIFA.
Dengan ketentuan tim dari konfederasi yang sama tak berada dalam satu grup (kecuali Eropa), berikut beberapa kemungkinan hasil undian, dari grup neraka sampai grup empuk.

Pot 1

Tuan rumah Brasil bersama Argentina, Kolombia, Uruguay, Spanyol, Jerman, Belgia dan Swiss memiliki kesempatan berada di grup empuk andai satu grup dengan Kamerun, Australia dan Bosnia-Herzegovina (negara yang disebut duluan berada di pot 2, 3 dan 4 begitu seterusnya).
04 Pot ins1

Pot 2

Pot ini terdiri dari tim-tim dari konfederasi CAF (Afrika), non unggulan CONMEBOL (Amerika Selatan) dan satu negara Eropa yang berada di POT 4. Kamerun, Nigeria, Algeria, Ghana, Pantai Gading, Ekuador dan Chili.
04 Pot ins3

Pot 3

Berisikan tim-tim dari konfederasi AFC (Asia) dan CONCACAF (Amerika Utara, Tengah dan Karibia), terdiri dari Jepang, Iran, Korea Selatan, Australia, Amerika Serikat, Meksiko, Honduras dan Kosta Rika. Skenario terburuk penghuni pot ini adalah berada satu grup dengan Brasil, Pantai Gading dan Belanda.
04 Pot ins2

Pot 4

Terdiri dari Negara-negara konfederasi UEFA: Belanda, Italia, Inggris, Portugal, Yunani, Kroasia, Rusia dan Bosnia-Herzegovina serta Perancis. Satu negara dari POT ini akan diundi untuk masuk ke POT 2.
04 Pot ins4
Semua menjadi menarik tergantung negara mana yang diundi masuk ke POT 2 dari POT 4. Jika salah satu dari Belanda, Italia, Inggris, Portugal atau Perancis, tentu makin membuat favorit dari POT 1 ketar-ketir.
Bukan sekedar kejutan di awal musim?
Pecinta Serie A seakan tak percaya kalau saat ini tim ibukota, A.S Roma belum terkalahkan di sepanjang Sembilan minggu. Kejutan tak berhenti sampai di situ, Serigala ibukota meraih pucuk kekuasaan dengan cara menang secara beruntun. Tak satupun hasil imbang mewarnai grafik pesaing Lazio ini. Kami memiliki lima faktor yang membuat I Giallorossi tampil bengis di musim ini.

Kedatangan Rudi Garcia
in-1
Ketika fans Roma merasa terselamatkan dengan datangnya kembali Znedek Zeman menggantikan Luis Enrique, drama belum berhenti di tahap itu. Meski sempat mengembalikan kepercayaan diri anak-anak ibukota, Zeman membuat suasana ruang ganti menjadi panas saat perseteruannya dengan pemain-pemain Senior.
Lalu datanglah pria Prancis bernama Rudi Garcia. Seorang pelatih yang usianya belum genap lima puluh tahun tapi telah memiliki nama besar di League 1 saat mempersembahkan trophy untuk Lille. Garcia mengisi kekosongan Enrique yang tak luwes dalam skema bermain dan menaruh jauh-jauh sifat totaliter yang biasa diperagakan Zeman. Intinya Garcia membuat suasana ruang ganti menjadi lebih kondusif.
Pemain belakang Roma Federico Balzaretti mengatakan bahwa kesuksesan Roma berasal dari kerja keras Garcia.
“Garcia menjalankan tugasnya dengan sangat baik selama pramusim, ada pelatihan tertentu yang diterapkan kepada kami, di mana membangun fondasi yang membuat kami bisa meraih banyak kemenangan,” ujar Balzaretti
Mempertahankan Francesco Totti
in-2
Merasa karirnya hampir habis karena seringnya cidera dan factor usia, Francesco Totti sempat gundah Namun Garcia mengambil satu langkah cerdas dengan memperpanjang kontrak sang pangeran ibukota. Hasilnya, Totti telah menorehkan tiga gol, dua diantaranya dipersembahkan saat Il Lupi menghantam Internazionale di Giuseppe Meazza.
Dengan skuad yang rata-rata diisi muka baru, kepemimpinan Totti jelas sangat dibutuhkan. Kepercayaan Garcia dibayar lunas oleh Totti yang meski tengah dibalut cidera, tetap menyemangati rekan-rekan lainnya. Sebab Totti sadar Roma tengah dalam fase yang bergairah.
Pertanyaan pun muncul. Faktor apa yang menyebabkan Er Pupone bersedia terus merumput bersama Roma. Berikut adalah petikan wawancara Totti selepas kemenangan kontra Napoli
“Apa yang membuat saya bertahan di Roma? Hal itu adalah atmosfer yang selalu terbentuk di klub ini. Dan mengapa saya bisa memperpanjang kontrak musim ini? Semua karena jasa Rudi Garcia,” Ujar Totti
Perampingan para pemain bintang
in-3
Kepercayaan diri Garcia terlihat dari skuad yang kini menghuni deretan starting eleven. Pemain-pemain yang tak lagi memiliki passion tinggi atau sering berulah dipersilahkan untuk angkat kaki dari Olimpico. Maka ketika eksodus pemain kunci Roma seperti Erik Lamela,Martin Stekelenburg,Marquinhos dan Pablo Osvaldo, Garcia tampak tenang.
Bagi pelatih yang melambungkan nama Eden Hazard, etos kerja keras dan kekompakan adalah segalanya. Setelah ia menjual nama-nama tadi, uangnya ia belanjakan dengan pemain incaran yang menurutnya akan membawa kejayaan Roma seperti di tahun 2001.
Belanja cerdas di bursa transfer
in-4
Orang awam mungkin akan keheranan saat Garcia dengan berani memboyong Gervinho dari Arsenal. Karena bersama The Gunners, striker Pantai Gading lebih sering mengisi bangku cadangan. Namun sekarang lihatlah betapa menakutkannya aksi Gervinho.
Langkah berani Garcia lainnya adalah membeli Douglas Maicon. Publik dunia telah memvonis bahwa karir bek asal Brazil ini telah habis saat menjadi ‘bahan olok-olok’ Gareth Bale beberapa tahun silam. Belum lagi kepindahannya ke Manchester City yang nyaris tak semua orang memperhatikannya. Namun dengan sentuhan tangan dingin pelatih barunya, Maicon menunjukan karirnya belumlah habis.
Dua pembelanjaan cerdas lainnya adalah saat Garcia berhasil meyakinkan bintang masa depan Belanda Kevin Strootman yang saat itu tengah dibidik banyak klub. Morgan De Sanctis menjadi nama terakhir yang diboyong. Kiper veteran yang pernah membela Napoli sejauh ini baru kebobolan satu gol.
Skema permainan yang lebih atraktif
in-5
Garcia hanya melakukan sedikit penyesuaian. Dalam gaya bermain, dia mungkin lebih mirip dengan pendahulunya. Namun yang jadi pembeda adalah karena dia menitikberatkan pada gelombang serangan yang lebih massif.
Roma tengah menikmati formasi menyerang 4-3-3 atau 4-2-3-1 dengan filosofi gabungan ball positioning tiki-taka Spanyol dengan ciri khas serangan cantik Prancis seperti yang ia peragakan kala masih memegang tampuk kekuasan Lille. Gabungan pemain senior seperti De Rossi dengan youngster Kevin Strootman dan Miralem Pjanic jelas terbukti ampuh. Oh iya, kalaupun belum tuntas, Garcia masih memiliki stok serigala-serigala muda bernama Michael Bradley dan Alessandro Florenzi.

5 Kunci Revolusi AS Roma

Posted by Zulfikar Alfayed
Rabu, 30 Oktober 2013
Masalah yang tak kunjung berhenti membuat tim Italia cenderung jago kandang
Juventus yang merupakan juara dua musim terakhir mendapatkan kekuatan baru dengan kedatangan Carlos Tevez dari Manchester City. Bahkan, sang pemain sudah mengeluarkan sinyal bahaya bagi para calon lawannya kala berhasil membawa Juve menggilas Lazio pada pertandingan Supercoppa Italiana. Di pertandingan tersebut juga terlihat bahwa musuh persepakbolaan Italia masih ada dengan terdengarnya chant bernada rasis dari tribun penonton dan absennya kapten Lazio, Stefano Mauri akibat pengaturan skor.
Selain kedua masalah tersebut, masih ada masalah stadion, finansial dan hooliganisme yang membuat Serie A kehilangan prestisenya dengan para pemain bintang lebih memilih Spanyol, Inggris dan yang baru-baru ini Jerman dan Perancis sebagai tujuan transfer mereka. Antonio Conte bahkan mengatakan bahwa akan membutuhkan waktu bertahun-tahun lagi untuk tim Serie A bisa menjuarai Liga Champions.
09 i
Tetapi, musim panas ini seakan menunjukkan bahwa Serie A belum habis. Kedatangan pemain seperti Gonzalo Higuain, Carlos Tevez dan Mario Gomez ke Italia seakan menjadi angin segar bagi kompetisi tersebut. Sebelumnya, Mario Balotelli juga memilih untuk pulang kampung dan bermain di negara tempat ia lahir. Namun, tim tim di Italia juga menunjukkan bahwa aktivitas transfer mereka terhalang oleh permasalahan finansial. Contohnya Napoli. Tim ini baru bisa mendatangkan pemain seperti Higuain, Mertens dan Albiol hanya setelah mereka menjual penyerang andalannya, Edinson Cavani, dengan banderol selangit.
Juventus, Napoli, AC Milan dan Internazionale akan menjadi tim-tim yang akan bertarung untuk memperebutkan scudetto. Juventus dan AC Milan tidak melakukan perubahan pada timnya dan cenderung masih akan kuat seperti musim lalu. Sementara itu bagi Napoli dan Inter, ini akan menjadi ujian bagi pelatih baru mereka, Rafa Benitez dan Walter Mazzarri dalam menyusun strategi dan menjadikan tim yang mereka latih memiliki peluang mengalahkan dominasi Juventus.
Di balik serunya persaingan di dalam lapangan nanti, masalah di luar lapangan seperti tak pernah berhenti mendatangi persepakbolaan Italia. Pada saat pertandingan Supercoppa, fans Lazio meneriakkan chant berbau rasis pada pemain kulit hitam Bianconeri. Lazio pun dituntut untuk menutup Curva Nord, tempat fans garis keras mereka biasanya berada. Bahkan, kejadian seperti ini juga terjadi di tingkat amatir. Seorang pemain klub Matera diberi sanksi 10 pertandingan setelah mengeluarkan hinaan berbau rasis pada lawannya di pertandingan Coppa Italia pada bulan Juli lalu.
Selain masalah rasis, pengaturan skor juga kali ini kembali merebak. Bahkan tak hanya Serie A, beberapa pertandingan divisi di bawahnya bahkan Coppa Italia pun turut menjadi lahan bagi para mafia sepakbola untuk mencari uang. Pemain terkenal yang terkena imbasnya adalah Stefano Mauri. Kapten Lazio ini terbukti terlibat dalam pengaturan skor pada 2011 dan diberi hukuman tidak boleh bermain selama enam bulan. Selain Mauri, kiper Torino asal Belgia, Jean Francois Gillet juga menerima hukuman selama tiga tahun tujuh bulan terhitung bulan Juli atas keterlibatannya di pengaturan skor pada tahun 2008 dan 2009.
Bagaimana dengan musim ini?

Dominasi Juventus Di Balik Kerasnya Serie A

Posted by Zulfikar Alfayed
Minggu, 25 Agustus 2013
Pahlawan tanpa tanda jasa yang membantu mengembangkan sepakbola
Guru adalah figur yang tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan. Tugas utama seorang guru adalah mendidik anak muda dengan pelajaran yang berguna untuk masa depannya. Guru juga merupakan potret orang tua seorang murid di sekolah. Pantas rasanya mereka diberi gelar ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’.
Namun kali ini spesial. Para mantan pengajar di sekolah ini turut berjasa dalam mengembangkan sepakbola. Ya, beberapa nama seperti Louis van Gaal dan Roy Hodgson dulunya merupakan seorang guru. Kini mereka tengah mengukir tinta emas di dunia persepakbolaan. Masih ada beberapa nama pelatih besar lagi dengan masa lalu seorang guru.
Penasaran? Berikut kami persembahkan, guru di dunia sepakbola seperti ditulis Guardian:

10 i 1

Rinus Michels

Mungkin nama ini terdengar asing bagi beberapa dari Anda. Namun, coba tanya ayah atau kakek Anda. Apabila mereka merupakan penggemar sepakbola tentu tidak akan asing dengan nama ini. Michels dikenal dunia sebagai ‘Bapak Total Football’. Dialah orang yang berjasa menanamkan paham ini di persepakbolaan Belanda dan kini dianut hampir semua tim di Eropa diciptakan oleh pelatih asal Belanda ini.
Ternyata, sebelum meraih sukses bersama Ajax, Barcelona dan timnas Belanda, Michels merupakan seorang guru olahraga. Lebih hebatnya lagi, ia mengajar olahraga di sekolah khusus anak-anak tuna rungu. Mungkin, kebaikan Michels ketika mengajar di sekolah itu terbayar ketika meniti karir sebagai seorang pelatih.

10 i 2

Guus Hiddink

Masih dari Negeri Kincir Angin kini ada nama Guus Hiddink. Pelatih yang dianggap memiliki sentuhan emas kala menangani timnas Korea Selatan dan Australia ini dulunya juga merupakan seorang guru olahraga untuk sebuah sekolah bagi anak-anak bermasalah.
Bahkan dalam otobiografinya Hiddink menyatakan bahwa melatih sebuah klub tak ubahnya mengajar anak-anak di tempat ia mengajar dahulu. “Aku memiliki murid dari berbagai latar belakang berbeda, bahkan ada beberapa yang kriminal. Sangat mudah mengumpakan pekerjaan tersebut dengan melatih klub sepakbola,” tuturnya di autobiografi tersebut.

10 i 3

Roy Hodgson

Nama kali ini datang dari daratan Britania. Pelatih timnas Inggris sekarang ini memiliki latar belakang yang sama dengan dua nama sebelumnya yaitu guru olahraga. Tapi lebih hebatnya, Hodgson tidak hanya mengajar di satu sekolah, tapi dua. Padahal, karirnya mengajar kala itu dilakukan di saat ia baru memulai karir kepelatihan.
“Setahun setelah ia berhenti mengajar kami, aku sedang membaca koran Shoot yang selalu memuat profil klub asing. Hari itu klub yang dimuat adalah klub Swedia, Halmstad. Di situ ada foto manajer mereka dan itu sangat mirip dengan Hodgson. Saat aku mengetahui itu adalah dia, aku sangat terkejut,” tutur salah seorang mantan muridnya, Ramzi Musallam.

10 i 4

Julie Fleeting

Nama terakhir mungkin terdengar asing bahkan bagi penikmat sepakbola Britania. Fleeting adalah pesepakbola wanita asal Skotlandia yang bermain untuk Celtic. Tidak adil rasanya memasukkan nama pesepakbola wanita di sini, karena bagi sebagian dari mereka bermain sepakbola hanyalah sampingan saja.
Tapi, ada satu hal yang patut diacungi jempol dari Fleeting. Ia sempat harus bolak-balik Skotlandia-London setidaknya sekali seminggu. Alasannya, saat itu ia bermain untuk Arsenal Ladies dan juga mengajar olahraga di sebuah sekolah di daerah Ayrshire. Karirnya di Arsenal Ladies pun cukup mentereng karena berhasil memenangkan banyak piala termasuk 8 trofi liga.

Guru di Dunia Sepakbola

Posted by Zulfikar Alfayed
Terkadang di negeri orang nasib lebih berpihak daripada di negeri sendiri
Siapa yang tidak tahu La Masia. Akademi sepakbola milik FC Barcelona dikenal sebagai akademi yang paling sukses. Pemain seperti Carles Puyol, Xavi Hernandez, Andres Iniesta merupakan contoh betapa hebat hasil dari akademi yang apabila namanya dijadikan bahasa Inggris menjadi “The Farmhouse” ini. Ketiga nama tersebut memberikan performa luar biasa sehingga Barcelona bisa meraih banyak trofi dalam setengah dekade terakhir.
Tapi, tidak semua lulusan akademi La Masia menemukan performa terbaiknya di Barca. Banyak dari mereka yang justru menjadi bintang setelah meninggalkan Camp Nou.
Berikut beberapa pemain yang justru menjadi bintang setelah hengkang dari Catalonia.Selamat membaca!
Nayim
Mohamed Ali Amar atau lebih akrab disapa Nayim merupakan salah satu alumni La Masia. Lahir pada 1966, Nayim berada di akademi La Masia dari 1979-1985 sebelum akhirnya masuk ke tim Barca B. Di Barca B ia masih bisa menunjukkan penampilan terbaik dengan catatan 46 penampilan dan 7 gol dalam 2 musim. Sempat berada satu musim di tim utama, Nayim hanya mampu mengemas 7 pertandingan sebelum akhirnya dijual ke Tottenham Hotspur.
10 LaMasia raw ins1
Di London, Nayim mampu menunjukkan penampilan terbaiknya. Selama 5 musim di sana, pemilik 1 cap di timnas Spanyol U-21 ini tampil 144 kali dan mencetak 18 gol di liga saja. Pada tahun 1993 ia kembali ke Spanyol untuk memperkuat Real Zaragoza dan masih sempat menunjukkan magisnya selama 4 musim sebelum pindah ke Logrones dan pensiun di sana.
Sergio Garcia
Sergio Garcia adalah lulusan La Masia tahun 2002 dan langsung menyegel satu tempat di tim B. Bersama Barcelona B, Garcia berhasil mencetak 34 gol dalam 60 pertandingan liga. Namun sayang, performa apik Garcia tidak mengikuti saat ia pindah ke tim utama. Dua musim di tim utama ia hanya mengemas 4 kali main tanpa mencetak gol satupun.
10 LaMasia raw ins2b
Saat musim terakhir di Barca, Garcia sempat dipinjamkan ke Levante dan berhasil mencetak 7 gol dari 31 penampilan liga. Musim-musim berikutnya, Garcia sempat bermain untuk Zaragoza dan Real Betis di mana ia mampu mencetak banyak gol. Kini Garcia bermain untuk Espanyol, rival sekota Blaugrana. Di Espanyol ia menjadi penyerang utama dan nyaris tak tergantikan, tidak seperti di tim masa kecilnya.
Luis Garcia
Luis Garcia juga merupakan potret bintang yang bersinar setelah hengkang dari Camp Nou. Sempat digadang-gadang menjadi bintang, Garcia malah dijual oleh Barca B ke Atletico Madrid. Semusim bersama Rojiblancos, Garcia kembali ditarik ke Barcelona selama semusim sebelum kemudian dijual ke Liverpool.
10 LaMasia raw ins3
Bersama The Reds Garcia merasakan indahnya menjadi juara Eropa. Selain itu, ia juga memenangkan Piala Super Eropa 2005, FA Cup 2006 dan Community Shield 2006. Selama 3 tahun di Merseyside, Garcia menjadi pujaan para pendukung Liverpool. Bahkan ada lagu tersendiri yang dibuat khusus untuknya. Kini, Garcia masih aktif bermain di Liga Meksiko untuk klub Pumas.
Mikel Arteta
10 LaMasia raw ins4Arteta merupakan sosok gelandang yang mampu beroperasi di setiap posisi lini tengah. Di Barcelona, ia sempat bermain bersama Barca B sebelum akhirnya dipinjamkan ke Paris Saint-Germain karena gagal menembus tim utama. Setelah menyelesaikan masa pinjaman yang sukses di Perancis, Arteta pindah ke Skotlandia untuk memperkuat Rangers. Bersama The Gers, Arteta memenangi Liga Skotlandia, Scottish Cup dan Scottish League Cup selama musim 2002-2003. Dua musim di Skotlandia, Arteta kemudian pulang ke Spanyol untuk memperkuat Real Sociedad dan akhirnya pindah ke Everton pada tahun 2005.
Arteta memperkuat Everton dari 2005-2011. Selama itu, meski tidak memenangi trofi apapun, Arteta menunjukkan penampilan yang konsisten bersama The Toffees. Enam musim di Merseyside, Arteta kemudian pindah ke salah satu raksasa Inggris, Arsenal. Di Arsenal, ia menjadi figur tak tergantikan di lini tengah bersama Jack Wilshere dan rekan senegara, Santi Cazorla. Bahkan kini ia ditunjuk sebagai wakil kapten Arsenal.

Para Alumnus La Masia Yang Gagal Bersinar di Camp Nou

Posted by Zulfikar Alfayed
Kamis, 15 Agustus 2013
Barca mencari evolusi, bukan revolusi
Resmi sudah Barcelona mempekerjakan orang Argentina bernama Gerardo Martino sebagai manajer baru sepeninggalan Tito Vilanova yang harus berjuang melawan kanker. Pelatih berumur 50 tahun ini memang mempunyai reputasi yang brilian di Amerika Selatan, tapi penunjukannya sebagai manajer Barca tentu masih mengejutkan banyak pihak. Apalagi ia belum berpengalaman sama sekali di Eropa.
Martino Ins1
Lionel Messi, tentu saja, gembira dengan penunjukannya sebagai manajer, sama sama kelahiran Rosario, pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut menganggap penunjukan Martino sebagai kejutan yang bagus, “Ini sebuah kejutan sangat mengagumkan karena Martino dipilih untuk melatih tim,” ujarnya melalui akun twitter.
Kalau Messi sudah paham lebih dulu tentang Martino, punggawa Barca yang juga pemain timnas Spanyol ‘berkenalan’ dengan Tata ketika Piala Dunia di Afrika Selatan tiga tahun silam. Saat itu Martino yang menangani Paraguay hampir saja menyudahi langkah Spanyol di panggung dunia. Kalau saja penalti Cardozo tidak diselamatkan Iker Casillas dan David Villa tidak berhasil memanfaatkan peluangnya di menit 83, Spanyol pasti akan pulang dengan kepala tertunduk.
“Saya pikir dia akan cocok dengan gaya kami. Saya mengenalnya ketika berhadapan dengan Paraguay di Piala Dunia Afrika Selatan. Dia adalah manajer yang ideal,” kata Iniesta dikutip dari Marca.
Lalu siapakah sebenarnya pria yang akrab disapa ‘Tata’ Martino ini?
Berikut beberapa informasi mengenai pemain yang pernah mengecap karir La Liga bersama Tenerife yang kami kutip dari berbagai sumber.
ger-i
Meski tidak punya nama di Eropa, pecinta sepak bola dari seluruh dunia akan segera menyadari prestasi yang ditorehkannya di Amerika Selatan. Setidaknya dunia mengenal Martino sebagai pelatih Paraguay yang sukses membawa tim yang ‘bukan apa-apa’ menjadi diperhitungkan setelah masuk ke babak perempat final, meski harus ditaklukkan Spanyol. Perjuangan yang luar biasa mengingat mereka sempat terseok-seok di babak kualifikasi zona Amerika Selatan.
Tata juga membawa Paraguay ke final Copa Amerika tahun lalu setelah melewati hadangan tim besar dengan rekor Piala Dunia terbanyak, Brazil. Setelah membawa Paraguay menjadi kuda hitam di turnamen-turnamen besar, Martino kembali ke Argentina untuk menangani Newell’s Old Boys, klub yang ia bela selama selama 15 tahun karir sebagai pesepak bola.
Martino Ins4bDalam jajak pendapat fans klub, Martino terpilih menjadi salah satu pemain terhebat Newell’s yang bermain hampir di 500 pertandingan. Kata-kata Martino yang bisa diingat ketika itu adalah, bahwa ia merasa akan ‘mengkhianati sejarah” jika tidak kembali ke klub itu kala mereka membutuhkannya. Dan benar, mereka benar-benar membutuhkannya. Musim sebelum Martino datang, Newell’s Old Boys hanya bisa finish di peringkat 19 dan 18 berturut-turut Liga Primera Argentina, 32 poin liga selama 12 bulan jelas bukan catatan yang oke, apalagi setelah tiga pergantian manajer selama setahun.
Pada akhir tahun yang sama dengan ketika ia mengambil alih klub, orang Argentina ini membawa Newell’s lolos ke Copa Libertadores. Hanya gol babak penalti dengan Atletico Mineiro lah yang memisahkan pelatih Argentina dari partai final, keberuntungan tidak berpihak padanya. Meski mengaku sudah melakukan segalanya sebagai seorang manajer, Barcelona akan menjadi tingkat ujian yang sama sekali berbeda bagi dirinya.
Mencari pelatih dengan gaya yang cocok sudah pasti, bukan hanya klub Catalan yang melakukan itu. Tapi untuk menyadari apa yang sebenarnya petinggi Barca cari, ada perlunya melihat ke belakang nama manajer yang masuk daftar pengganti Tito Vilanova. Rival yang paling berat adalah mantan pelatih Barcelona B, Luis Enrique. Enrique gagal bersama klub Italia AS Roma, tapi ia sukses bersama La Masia. Ia adalah salah satu dari sedikit pelatih yang dinilai akan cocok dengan gaya permainan Blaugrana.
Melihat profil Enrique yang nyetel dengan Lionel Messi cs., jelas Barcelona tidak mencari revolusi yang buru-buru. Tim Catalan lebih memilih sebuah proses evolusi yang mulus. Martino dinilai cocok dengan kriteria yang dibutuhkan, seandainya dia bisa menerjemahkan metode yang ia miliki. Ada kesamaan antara pelatih yang mematenkan gaya bermain tiki-taka, Pep Guardiola dengan Tata Martino, gaya mereka berdua sangat dipengaruhi oleh metode Marcelo Bielsa. Sementara Guardiola hanya bisa mengagumi dari jauh, Martino bermain di bawah asuhan Bielsa di awal tahun 90an.
Tapi label dia adalah murid Bielsa tidak dapat dikatakan tepat. Martino sendiri mengklaim dirinya belajar dari tiga manajer, Jose Yudica, Jorge Solari, dan Marcelo Bielsa. Yudica merupakan pelatih yang membawanya juara bersama Newell’s di tahun 1987-1988. Ia mengajarkan Martino pentingnya penguasaan bola. Solari membawa Martino ke Eropa untuk bermain di Tenerife, ia mengajarkan kepadanya tentang manajemen. Dan Bielsa membawanya ke level yang baru, lebih daripada yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Martino Ins2
Martino Ins3
Martino selalu percaya bahwa bolalah yang seharusnya berlari, bukan pemain, ia percaya menciptakan penguasaan bola akan selalu membuat sebuah tim menjadi ditakuti. Gaya permainan Martino yang lebih seimbang daripada para mentor membuatnya bahkan semakin mirip dengan gaya permainan Barca pada jaman Guardiola.
Seperti Barcelona, ia menikmati formasi 4-3-3 yang berubah menjadi 3-4-3 ketika menyerang. Di Newell, ia menempatkan Hernan Villalba pada posisi yang sama dengan Sergio Busquets. Bahkan ketika Guardiola menempatkan Messi sebagai false 9, Martino menempatkan Ignacio Scocco seorang playmaker yang diangkutnya dari Timur Tengah untuk menjadi striker paling mematikan di Amerika Selatan.
Newell di bawah Martino tidak pernah membiarkan musuh mendapatkan gol karena mereka tidak pernah bisa merebut bola. Di saat yang sama, ia juga menghancurkan lawan dengan kecepatan, tipu daya, dan gerakan yang bagus. Martino di gadang-gadang tidak akan kesulitan beradaptasi di Barcelona, sama seperti dia dengan mudah dapat beradaptasi dengan timnas Paraguay.
Tapi apakah bisa Martino cepat beradaptasi dengan ruang ganti yang berisikan pemain bintang? Tetapi setidaknya, memiliki pemain terbaik dunia yang bermain di sisinya sudah jadi permulaan yang bagus.

Siapa Sebenarnya Manajer Baru Barca?

Posted by Zulfikar Alfayed
Jumat, 26 Juli 2013

Kehadiran pemain-pemain Muslim di Eropa semakin meningkat, dan peran mereka di dalam budaya sepakbola memberi perubahan yang signifikan.

Seperti yang diketahui, Muslim dilarang untuk melakukan judi, meminum minuman beralkohol dan juga memiliki rutinitas ibadah yang tinggi, seperti shalat dan tentu saja puasa di bulan Ramadhan. Hal-hal tersebut tentu terlihat asing di sepakbola Eropa yang terbiasa menggunakan sampanye dalam melakukan selebrasi, memanfaatkan perusahaan judi sebagai sumber pemasukan, dan lain-lain.

Namun, semakin banyaknya pemain yang beragama Islam masuk ke sepakbola Eropa dan mampu menjadi perhatian pusat dunia dengan kemampuan mengolah bola yang lihai. Mau tidak mau, membuat klub atau pengelola kompetisi sepakbola Eropa melakukan kompromi.

Salah satu contoh paling bagus untuk hal tersebut adalah Liga Primer Inggris, kompetisi sepakbola yang disebut-sebut terbaik di dunia karena sangat kompetitif. Semakin ketatnya persaingan di EPL membuat klub-klub menjelajah seluruh pelosok dunia, termasuk dari bagian-bagian daerah Afrika ataupun daerah kumuh di Prancis untuk menemukan talenta baru.

Hal itu membuat EPL dihuni oleh berbagai macam ras, etnis manusia, dan juga kepercayaan yang berbeda-beda, termasuk penganut agama Islam.

Ketika EPL pertama kali dicetuskan pada 1992, hanya ada satu pesepakbola yang Muslim, dia adalah gelandang Tottenham asal Spanyol Nayim. Sekarang, ada 40 pemain Muslim di kasta tertinggi sepakbola Inggris tersebut.

                     Nayim, satu-satunya pemain Muslim di Liga Primer Inggris pada tahun 1992

Salah satu momen yang dimiliki pemain sepakbola untuk mengekspresikan kegembiraannya adalah ketika mencetak gol. Dan momen itu menjadi salah satu bukti kuat, menjamurnya pemain Muslim di Inggris setelah Demba Ba, Papiss Cisse, Abou Diaby, dan pemain-pemain Muslim lainnya melakukan selebrasi khas yaitu dengan sujud syukur.

Hal tersebut memantik pengakuan dari pelatih dan manajemen klub untuk memahami dan mengakomodasi kebutuhan beragama pemain mereka.

Para pemain Muslim diberi asupan makanan yang dijamin kehalalannya, memiliki opsi untuk mandi secara terpisah dengan rekan-rekan satu timnya dan juga diberikan ruang dan waktu khusus untuk menjalankan ibadah shalat.
                                    Demba Ba merayakan golnya dengan sujud syukur

Momen lain adalah ketika penganugerahan predikat Man of The Match. Sebelumnya, pemain yang mendapat predikat tersebut akan diberi hadiah satu botol sampanye.

Dan kebetulan, Yaya Toure menjadi pemain terbaik Manchester City di sebuah pertandingan. Ketika diwawancarai sebuah stasiun TV, Toure tampak ditawari sampanye oleh rekannya, Joleon Lescott, namun Toure menolak tawaran tersebut karena ia seorang Muslim.

Dan sejak saat itu, pihak pengelola kompetisi memutuskan untuk meniadakan sampanye dan memberi trofi kecil untuk pemain yang mendapatkan predikat Man of The Match.

Namun, ada tantangan tersendiri untuk bagi para pemain Muslim, salah satunya adalah ketika memasuki bulan Ramadhan.
                     Yaya Toure menyebabkan tradisi sampanye untuk Man of The Match EPL diubah

Berbeda dengan pemain-pemain Muslim yang berada di negara mayoritas Muslim di Asia, di mana pihak pengelola kompetisi akan menyesuaikan jadwalnya dengan bulan suci tersebut. Pemain-pemain  Muslim yang berlaga di Eropa mungkin akan merasa sangat kesulitan karena merekalah yang harus menyesuaikan diri dengan jadwal kompetisi.

Seperti yang diketahui, liga-liga di Eropa seperti Ligue 1 Prancis, Eredivisie Belanda, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Primera Liga Spanyol atau Liga Primer Inggris sangat teratur dalam hal jadwal. Sehingga tidak mungkin mengubah atau menyesuaikan jadwal kompetisi selama hampir satu bulan penuh.

Beberapa pemain memaksa untuk berpuasa setiap hari. Pemain lain mungkin berpuasa di hari latihan tetapi tidak di hari pertandingan. Klub biasanya melakukan kompromi, tetapi tetap bukan periode yang mudah bagi pelatih ataupun sang pemain.

"Saya berusaha menghargai agama saya dan mengikutinya sebaik yang saya bisa," ujar Kanoute ketika masih membela Sevilla. "Terkadang sulit untuk tetap berpuasa karena di Spanyol bagian Selatan sangat panas, tetapi saya dapat melakukannya, saya bersyukur pada Tuhan."

Pada 2009, juga sempat terjadi sedikit 'insiden' di Italia saat pertandingan antara FC Internazionale menghadapi Bari yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jose Mourinho, ketika masih menangani Inter, mengganti Sulley Muntari, yang memilih tetap terus berpuasa meski hari pertandingan, ketika pertandingan hanya berjalan setengah jam.
              Sulley Muntari, salah satu pemain yang memilih terus berpuasa di hari pertandingan

Mourinho kemudian mengatakan bahwa Ramadhan tidak datang di waktu ideal bagi pemain untuk bermain sepakbola. Komentar itu menimbulkan kritikan luas, yang akhirnya membuat Mourinho memberi klarifikasi.

"Keputusan Muntari tidak untuk dikritik karena itu pertanyaan kepercayaan dan agama. Itu berarti saya menerimanya. Saya tidak pernah mengatakan Muntari harus melupakan agamanya dan berlatih," ujar Mou.

Hal yang sama juga dilakukan oleh gelandang Arsenal Abou Diaby dan striker Newcastle Unite Demba Ba. 
Diaby mengatakan: "Arsenal lebih menginginkan saya untuk tidak puasa, tetapi mereka memahami ini adalah momen spesial untuk saya dan mereka berusaha mengakomodasi hal-hal agar membuat saya lebih baik."

Sementara, Ba mengakui dia memiliki beberapa masalah dengan pelatih terkait Ramadhan, tetapi dia mengatakan tetap bertahan untuk berpuasa.

"Setiap kali saya memiliki pelatih yang tidak gembira dengan hal itu, saya mengatakan: 'Dengar, saya akan melakukannya [berpuasa]. Jika performa saya masih bagus, saya tetap bermain, jika buruk maka Anda bangku cadangkan saya, demikian.'"
Beberapa Pemain Muslim Top Di Eropa
NamaKlubNegara
Mesut OzilReal MadridJerman
Sami KhediraReal MadridJerman
Karim BenzemaReal MadridPrancis
Franck RiberyBayern MunichPrancis
Demba BaNewcastle UnitedSenegal
Papiss CisseNewcastle UnitedSenegal
Yaya ToureManchester CityPantai Gading
Samir NasriManchester CityPrancis
Edin DzekoManchester CityBosnia
Kolo ToureLiverpoolPantai Gading
Samir HandanovicFC InternazionaleSlovenia
Abou DiabyArsenalPrancis
Bacary SagnaArenalPrancis
Ibrahim AffelayBarcelonaBelanda
Miralem PjanicAS RomaBosnia

Beberapa pemain juga memilih untuk melakukan kompromi. Nicolas Anelka mengatakan awalnya dia terus berpuasa seperti yang lain, tetapi ia mengatakan:  "Saya menyadari saya kerap mengalami cedera setelah beberapa periode Ramadhan, jadi saya tidak melakukannya dengan ketat lagi."

Demikian juga dengan Marouane Chamakh. "Saya tidak memiliki masalah berpuasa saat Ramadhan, ini menjadi normal. Sehari sebelum pertandingan dan di hari pertandingan saya tidak berpuasa, tetapi saya mengganti hari itu di hari yang lain."

Beruntung Ramadhan tahun ini berakhir pada 7 Agustus, atau sebelum bergulirnya kebanyakan kompetisi di Eropa.

Sponsorship juga menjadi bagian dari masalah. Tim dengan sponsor judi dan peminjaman uang di jersey mereka, membuat pemain Muslim berada dalam posisi sulit, itu karena mereka juga digunakan untuk mempromosikan aktivitas yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Yang paling tenar tentu saja sikap Frederic Kanoute yang sempat menolak untuk mengenakan jersey tim yang disponsori oleh perusahaan judi, yang artinya membuat klub harus menyediakan jersey tanpa sponsor untuknya.

Namun, pemain asal Mali tersebut akhirnya bersedia memakai jersey dengan sponsor dengan syarat dirinya tidak dilibatkan dalam promosi publik perusahaan judi tersebut.

Dan yang terbaru terjadi di Newcastle United, striker Cisse mengatakan dia berencana untuk berbicara dengan klub  dan sponsor mereka, Wonga, karena dia khawatir kepercayaannya sebagai seorang Muslim akan terganggu jika dia terlihat mempromosikan perusahaan itu.
              Frederic Kanoute sempat menolak mengenakan jersey dengan sponsor perusahaan judi

Striker Crewe Nathan Ellington, yang juga pernah bermain untuk Wigan Athletic dan West Bromwich Albion, menilai hal itu di luar kendali sang pemain.

"Saya pikir itu biasanya di luar kendali pemain Muslim. Meskipun dia tidak dibolehkan untuk berjudi, itu adalah hal yang tidak dapat benar-benar Anda kendalikan," ujarnya.

Kiper Wigan, Ali Al-Habsi juga mengutarakan pendapat yang sama: "Kami adalah pemain dan hal-hal seperti ini datang dari klub. Kami tidak dapat melakukan apapun terhadapnya, kami hanya melakukan tugas kami."


"Arsenal  memahami Ramadhan adalah momen spesial untuk saya dan mereka berusaha mengakomodasi hal-hal agar membuat saya lebih baik."

Abou Diaby


Pengaruh Pemain Muslim Dalam Budaya Sepakbola Eropa

Posted by Zulfikar Alfayed
Jumat, 12 Juli 2013
Sepertinya, Juventus akan begitu mudah mengakhiri polemik logo tiga bintang musim depan.
Seorang teman melempar statemen singkat,”Jangan pernah mengharap pemain seperti Neymar akan bermain di Serie A saat ini.” Dalam diskusi singkat tersebut, teman yang tak mau saya kutip namanya membeberkan beberapa alasan mengapa Serie A begitu miskin daya beli. Jangankan mengharap kedatangan Neymar, jika ada tawaran menarik, Edinson Cavani atau Stevan Jovetic mungkin hanya tinggal menghitung hari untuk segera merasakan atmosfer gemerlap liga top Eropa lainnya.
Apa alasan bagi pemain-pemain bintang liga top Eropa lainnya untuk rela berlaga di kompetisi yang sepi penonton di stadion dan beberapa tahun terakhir hanya menjadi bulan-bulanan di Eropa?
Silakan cek hingga artikel ini dirilis. Bisa jadi, nama Carlos Tevez dan Fernando Llorente, dua pemain anyar Juventus asal Premier League dan La Liga yang berlabel bintang. Selainnya? Inter –klub Italia terakhir yang jumawa di Eropa– cukup puas dengan rekrutan Walter Mazzarri serta Mauro Icardi, jika nama terakhir cukup penting untuk diperbincangkan.
01 Akankah Serie A Makin Membosankan i 1
Bagaimana dengan AC Milan, klub Italia paling sukses di Eropa? Sementara masih adem ayem seperti kebiasaan kubu Adriano Galliani yang biasa heboh di detik-detik terakhir jelang penutupan jendela transfer. Hanya mempermanenkan status Cristian Zapata dengan rekrutan kompatriotnya asal Kolombia, Jherson Vergara. Nama terakhir malah mungkin begitu asing di telinga pecinta Serie A. Pecinta Milan bisa saja mengharap kasus-kasus pemain bintang bermasalah kembali terulang yang kemudian bergabung dengan Rossoneri seperti kala mereka sukses menghadirkan Filippo Inzaghi, Robinho, Zlatan Ibrahimovic hingga Mario Balotelli.
Ditambah Financial Fair Play yang digembar-gemborkan UEFA terbukti sudah membunuh Malaga dari Eropa. Strategi pengencangan ikat pinggang memang makin memberikan alasan logis bagi klub-klub Serie A untuk berhemat. Sementara pemasukan dari penjualan tiket partai home jauh panggang dari api. Lagi-lagi, di sektor ini, Juventus kembali jauh meninggalkan para pesaingnya. Dengan stadion milik pribadi, bukanngontrak, begitu mudah Bianconeri menggenjot pemasukan. Tak perlu kami jelaskan lagi bagaimana neraca laporan keuangan Sang Kekasih Italia terus menunjukkan angka positif bukan?
01 Akankah Serie A Makin Membosankan i 2
Tren di pasar jual-beli pemain biasanya dipengaruhi faktor gengsi tampil di panggung elit Champions League. Banyak pemain bintang menempatkan faktor ini di list paling atas selain besaran gaji dan kemungkinan mengangkat trofi, tentu saja. Patut diingat, di musim jelang even akbar Piala Dunia, tak ada pemain bintang yang rela hanya menjadi pemanas di bangku cadangan. Siapapun ingin tampil menawan sepanjang musim dan dilirik para juru taktik timnas masing-masing untuk ikut menyanyikan lagu kebangsaan kala berlaga di Brasil tahun depan.
Jika seperti ini, hanya Juventus, Napoli serta AC Milan saja kemungkinan menjadi destinasi bagi pengekor Tevez dan Llorente. Ketiganya masih menjadi magnet karena berlaga di UCL. Jika Cavani akhirnya resmi keluar dari San Paolo dan Aurelio De Laurentiis tak mendapat pengganti sepadang untuk menyempurnakan formasi menyerang Rafael Benítez serta Silvio Berlusconi-Adriano Galliani masih tak seambisius Juventus, hasil akhir Serie A musim 2013/2014 mungkin sudah bisa kita tebak jauh-jauh hari sebelum kick off 24 Agustus bulan depan.
Selalu ada keuntungan dari sepinya pemain bintang di Serie A. Pemain muda Italia lebih banyak mendapatkan jam terbang, yang berimbas ke sumber daya bagi timnas. Jangan kaget jika Inggris akan kesulitan mencari regenerasi bagi Wayne Rooney cs. Di ajang Piala Eropa usia di bawah 21 tahun yang baru saja berlalu di Israel, Inggris pulang dengan catatan memalukan. Hanya mampu mencetak sebiji gol, itupun dari titik penalti, Wilfried Zaha cs. selalu kalah dengan catatan kebobolan lima gol dan menempati posisi buncit di fase penyisihan grup.
“Apalagi dengan konsep transfer Juve yang ngumpulin begitu banyak pemain timnas Italia, makin jelas bukan?” begitu teman saya yang bukan seorang Juventini menutup perbincangan.

Akankah Serie A Makin Membosankan?

Posted by Zulfikar Alfayed
Selasa, 09 Juli 2013

Popular Post

About Me

- Copyright © 2013 The Gunners -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -